Cahaya matahari di pagi Sabtu, 10 Januari 2026, baru saja terlihat menyinari Wisma Haji Ciloto, Cianjur, Jawa Barat. Udara pagi yang dingin masih menusuk hingga tulang. Kabut halimun juga masih terlihat tebal dari lereng gunung Gede-Pangrango yang sesekali menyapu hingga hamparan ke area Puncak.
Namun dari satu sudut halaman Wisma di km 95 jalur Cianjur-Puncak itu seketika berubah riuh oleh 87 peserta Rakornas Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB). Tidak ada gurat kaku khas rapat formal atau setelan jas yang biasanya melekat pada para tokoh organisasi.
Pagi itu, pengurus pusat BPP KKMSB serta sejumlah pengurus BPW dari provinsi lainnya menyatu dalam barisan. Tawa, canda dan yel-yel bersahutan terdengar nyaring membelah dinginnya Ciloto. Melebur dalam satu irama. Riang dan gembira.
Di Rakornas bertemakan “Membangun untuk Sulbar” ini panitia sengaja menyiapkan sesi outbound sebagai menu utama. Terbilang sederhana, namun mendalam. Sesi ini meruntuhkan sekat-sekat jabatan dan mempererat ikatan emosional melalui rangkaian fun games.
Suasana riang gembira langsung pecah sejak awal. Para peserta berbaur tanpa sekat. Mereka berjoget bersama mengikuti irama musik dari Timur. Teriakan To makappaq dan To malolo turut terdengar dari para perantauan ini.
Bahkan, ketika hujan ringan mulai membasahi lapangan, tak satu pun peserta yang beranjak. Semangat “Ber-KKMSB” rupanya jauh lebih kuat daripada rintik hujan yang turun. Di tengah kemeriahan itu, Ketua Umum BPP KKMSB, Muhammad Zain, tampak larut dalam keceriaan. Ia mengaku bangga melihat kekompakan para fungsionaris organisasi.
“Saya sangat senang melihat kebersamaan yang terjalin erat hari ini. Tidak ada jarak antara pusat maupun wilayah. Saya berharap kebersamaan ini menjadi langkah awal yang solid bagi kita untuk memajukan KKMSB, terutama dalam mengimplementasikan seluruh program kerja ke depan,” katanya dengan wajah sumringah.
Senada dengan Ketua Umum, Sekretaris Jenderal BPP KKMSB, Isra D Pramulya, juga memberikan apresiasi tinggi terhadap sesi outbound ini. Baginya, kegiatan di lapangan adalah simulasi nyata dari koordinasi organisasi.
“Outbound ini bukan sekadar bermain, tapi cara kami membangun chemistry. Di KKMSB, koordinasi antara Sekjen, pusat, dan wilayah harus cair. Komunikasi efektif adalah kunci agar roda organisasi tidak macet,” ungkap Isra, yang saat ini menampuk jabatan sebagai komisaris di salah satu BUMN.
Tak ketinggalan, Bendahara Umum BPP KKMSB, Jufri Mahmud, turut memberikan pandangannya dari sisi semangat pengabdian. Putra Mapilli ini melihat keceriaan para peserta sebagai aset non-materiil yang sangat besar bagi keberlangsungan organisasi ke depan.
“Keceriaan dan kerelaan peserta berbasah-basahan di bawah hujan ini adalah bukti cinta mereka pada organisasi. Bagi saya, kebersamaan yang tulus ini adalah modal utama. Jika hati sudah menyatu dan bahagia seperti ini, maka urusan pengabdian dan kerja-kerja organisasi ke depan pasti akan terasa jauh lebih ringan dan produktif,” jelas Jufri Mahmud, salah satu senator muda asal Sulawesi Barat.
Sementara itu, kekompakan terlihat nyata dalam empat permainan yang disiapkan oleh panitia. Seperti Bulldozer, di mana setiap tim harus melangkah serempak di atas karpet plastik agar terus berputar maju tanpa ada kaki yang keluar. Begitu pula dalam permainan mengeluarkan bola dari jaring dan Lego Build, yang menuntut komunikasi presisi serta strategi kelompok yang matang.
Momen paling emosional terlihat saat permainan Mencari Bola Emas. Dengan mata tertutup, peserta harus mencari bola hanya dengan mengandalkan instruksi suara rekan setimnya. Di sinilah rasa saling percaya (trust) benar-benar diuji. Mewujudkan filosofi yang menurut para tokoh KKMSB sangat relevan dalam menjaga soliditas diaspora Mandar di perantauan.
Jelang tengah hari, rangkaian fun games berakhir dengan perasaan puas dan ceria. Meski peluh membasahi kaos, para peserta membawa pulang semangat baru. Mereka sadar bahwa kerja-kerja besar berKKMSB serta untuk Sulawesi Barat akan terasa lebih ringan jika dijalankan dengan fondasi kebersamaan yang telah mereka bangun kuat di bawah rintik hujan Ciloto.(*)